Senin, 21 Januari 2013

Keteladanan Mohammad Natsir



Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 dan wafat di Jakarta 6 Februari 1993.  Pendidikan Islam diperolehnya sejak kecil dari orang tua dan lingkungannya.  Pendidikan formal di HIS Solok, MULO (1923-1927), dan AMS di Bandung (1930).  Orang sering mengenal Natsir sebagai tokoh dakwah dan politik. Tetapi, tidak banyak yang mengenal Natsir sebagai seorang tokoh Pendidikan Islam.  Padahal, gagasan dan kiprahnya di bidang ini sangat fenomenal.

Natsir bukan hanya politisi handal. Dia adalah seorang pejuang pendidikan yang layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara dan sebagainya. Selain amat concern dengan nasib pendidikan rakyat jelata yang tak punya hak pendidikan di masanya, saat menjadi Perdana Menteri, salah satu prestasinya adalah keputusannya bersama menteri agama, Wahid Hasyim, untuk mewajibkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum. Ketika terhalang aktif di dunia politik pun, Natsir terus menumpukan pada dunia pendidikan melalui Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII).

Sebelum menelaah kiprah Natsir di dunia pendidikan, adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan yang dijalani Mohammad Natsir sendiri. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung.

Natsir lahir dari pasangan suami-istri Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Dia dibesarkan pada keluarga Muslim yang taat. Sejak kecil, dia sudah dibesarkan dalam tradisi keislaman yang kuat. Kemauannya yang kuat dalam mempelajari ilmu-ilmu agama menjadikan Natsir cepat mengusai bahasa Arab dan ilmu-ilmu lain. Dalam waktu singkat, dia pun sudah bisa membaca kitab kuning.  Menurut Natsir, sejak kecil memang dia ingin menjadi seorang ”Meester in de Rechten” (Mr.), satu gelar yang dipandang hebat kala itu.  Dalam memoar yang ditulis majalah Tempo (edisi 2 Desember 1989, Natsir menceritakan tentang pendidikannya:
”Sampai di MULO, semuanya saya lalui dengan nilai baik. Malah dapat biasiswa dua puluh rupiah sebulan. Bisa beli buku dan keperluan lain. Padahal, saya sekolah sambil cari kayu bakar, memasak, membuat sambal, dan mencuci pakaian sendiri. Masih sempat pula ikut pandu Natipij (Nationale Islamitische Padvindrij) dari organisasi pemuda Jong Islamieten Bond (JIB). Hingga akhirnya lolos masuk AMS di Bandung, juga dengan mendapatkan beasiswa sebesar tiga puluh rupiah sebulan. Di Bandung itulah saya berubah. Ternyata, yang bagus itu tak cuma meester.”
Menilik sejarah hidupnya, Natsir bisa dikatakan sebagai seorang yang haus ilmu. Di AMS Bandung, dia segera mengejar ketertinggalannya dalam penguasaan Bahasa Belanda – bahasa kaum elite terpelajar waktu itu. Bahkan, dia juga mendapatkan angka tinggi untuk pelajaran bahasa Latin yang sulit. Di Kota Kembang ini pun Natsir terus mendalami agama, di samping belajar sungguh-sungguh di sekolah umum. Kegemarannya dalam membaca buku, mendorongnya menjadi anggota perpustakaan dengan bayaran tiga rupiah sebulan. Setiap buku baru yang datang, Natsir selalu mendapat kiriman dari perpustakaan. Ada tiga guru yang mempengaruhi alam pikirannya, yaitu pemimpin Persis A. Hassan, Haji Agus Salim, dan pendiri al-Irsyad Islamiyah Syech Akhmad Soerkati. Natsir tertarik kepada kesederhanaan A. Hassan, juga kerapian kerja dan kealimannya. Selain itu A. Hassan juga dikenal seorang ahli perusahaan dan ahli debat.

Di Kota Bandung ini pula, Natsir aktif dalam organisasi Jong Islamiten Bond (JIB). Di sini dia sempat berinteraksi dengan para cendekiawan dan aktivis Islam terkemuka seperti Prawoto Mangkusasmito, Haji Agus Salim, dan lain-lain. Natsir juga sempat mengikuti organisasi Partai Syarikat Islam dan Muhammadiyah. Selain dalam bidang keilmuan, Natsir juga mulai terlibat masalah politik.

Sejak duduk di bangku sekolah AMS tersebut, Natsir sudah mulai terlibat dalam polemik tentang  pemikiran Islam. Pengalaman pertama terjadi ketika seluruh kelasnya diundang oleh guru gambar untuk menghadiri pidato seorang pendeta Kristen bernama Ds. Christoffels, tahun 1929. Pidatonya berjudul ”Quran en Evangelie” dan ”Muhammad als Profeet”.  Meskipun disampaikan dengan gaya yang lembut, Natsir melihat pidato si pendeta itu sesungguhnya menyerang Islam secara halus. Esoknya, pidato itu dimuat di surat kabar ”A.I.D.” (Algemeen Indish Dagblad). Natsir kemudian menulis artikel yang menjawab opini sang pendeta, melalui koran yang sama. (Anwar Harjono dkk., Muhammad Natsir: 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, (Jakarta:  Pustaka Antara, 1978), hal. 17. Ajip Rosidi mencatat bahwa tulisan ke A.I.D. tersebut bukan diterbitkan atas nama Natsir, tetapi atas nama Komite Pembela Islam. Lihat Ajip Rosidi, M. Natsir, Sebuah Biografi (Jakarta: Girimukti Pasaka, 1990).

Lulus dari AMS pada tahun 1930 dengan nilai tinggi, Natsir sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di  Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi. Namun, Natsir tidak mengambil peluang kuliah dan menjadi pegawai pemerintah tersebut. Dia lebih suka terlibat langsung dalam perjuangan di tengah masyarakat. Pengalamannya dalam perjuangan Islam telah membawanya kepada cakrawala baru. Natsir memimpin Jong Islameten Bond cabang Bandung tahun 1928-1932. Ia sudah biasa menulis dan berceramah dalam bahasa Belanda – bahasa kaum terpelajar saat itu. (Anwar Harjono dkk., Muhammad Natsir... hal. 19.)

Dengan kesibukannya di berbagai bidang dakwah dan pendidikan Islam, Natsir tidak tertarik lagi untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum atau ekonomi. Berikut penuturan Natsir, seperti dikutip majalah Tempo:

”Tamat AMS, sebetulnya saya dapat beasiswa untuk kuliah di fakultas hukum, tapi saya memilih tidak melanjutkan kuliah. Saya lebih tertarik melihat persoalan-persoalan masyarakat, persoalan politik. Jadi politik oposisi sebagai orang jajahan itu sangat terasa. Persoalan masyarakat yang saya hadapi  lebih menarik. Dan saya merasa berdosa kalau itu saya tinggalkan. Waktu saya mengambil keputusan untuk tidak kuliah itu banyak juga yang terkejut. Tuan Hassan sendiri, yang dekat dengan saya, kaget.
Tinggal bagaimana menjelaskan kepada orangtua. Waktu saya pakansi terakhir setamat AMS, saya temui Ibu dan Bapak. Saya katakan terus-terang bahwa saya tak tertarik lagi jadi meester. Saya mau terjun mendirikan sekolah saja. Takut juga saya kalau-kalau orangtua, kecil hatinya. Ternyata mereka tertarik juga dengan gagasan saya. Umi, ibu saya, setuju.  Bapak saya juga setuju. Jadi, itu saya anggap -- waktu itu -- sebagai karunia Ilahi. Sebab, kalau beliau-beliau mengerenyut, ya, saya merasa salah juga kan.

Saya mulai mengajar di sebuah sekolah MULO. Salah satu muridnya ialah Dahlan Djambek itu -- yang belakangan terlibat PRRI. Saya mengajar karena terdorong untuk mengajarkan agama. Tidak dikasih gaji apa-apa. Saya juga ngajar di kursus pegawai kereta api. Bentuk pengajarannya sistem diskusi. Ketika saya lihat sekolah-sekolah kita sama sekali kosong dari pengajaran agama, saya berniat membentuk pendidikan modern yang sejalan dengan pendidikan agama.”

          
Saat-saat remajanya, digambarkan dengan bagus oleh penulis Ajip Rosidi, bahwa setelah lulus AMS (Algemene Middelbare School/setingkar SMA), Natsir telah hidup mandiri.  Ia tidak mau bekerja di pemerintahan.  Padahal bila bekerja di pemerintahan, ia bisa dapat gaji cukup besar saat itu (paling kecil F. 130; harga beras saat itu tidak sampai F. 0,05/lima sen satu kilogram). Natsir juga tidak merasa sreg untuk melanjutkan ke Fakultas Hukum (RH) di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Belanda, meskipun kesempatan beasiswa terbuka lebar.

Ajip Rosidi melanjutkan ceritanya tentang Natsir:
”Lalu, dimulainyalah hidup sebagai seorang bebas yang bermaksud membaktikan dirinya buat Islam.  Setiap hari dia pergi ke rumah Tuan Hassan di Gang Belakang Pakgade dengan sepeda untuk mengurus penerbitan majalah Pembela Islam dan pada malam hari ditelaahnya Tafsir Al Qur’an dan kitab-kitab lainnya yang dianggap perlu, termasuk yang ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Eropa lainnya. Dibacanya majalah-majalah tentang Islam dalam berbagai bahasa, seperti Islamic Review dalam bahasa Inggris, Moslemische Revue dalam bahasa Jerman, dan juga majalah al Manar dalam bahasa Arab yang terbit di Kairo. Penguasaannya atas bahasa Arab sebenarnya belum sebaik terhadap bahasa Inggris, Perancis atau Jerman-jangan dikata lagi bahasa Belanda- tetapi Tuan Hassan selalu mendesaknya agar dia membaca kitab-kitab atau majalah-majalah dalam bahasa Arab.  Hal-hal yang menarik hati dari majalah yang dibacanya itu, disarikannya untuk dimuat dalam Pembela Islam, dengan demikian dibukanya semacam jendela sehingga para pembacanya dapat mengetahui juga keadaan dan pendapat sesama Muslim di bagian dunia yang lain. Pikiran-pikiran Amir Syakieb Arsalan misalnya mendapat tempat yang luas dalam halaman-halaman Pembela Islam, karyanya yang terkenal menelaah mengapa umat Islam mundur, dimuat bersambung di dalamnya.” (Ajip Rosidi, Natsir Sebuah Biografi, hal. 76).
Dalam surat pribadinya kepada anak-anaknya saat berada di hutan belantara Sumatra Barat tahun 1958, Natsir juga menceritakan kisah hidupnya:
”Aneh! Semua itu tidak menerbitkan selera Aba sama sekali. Aba merasa ada satu lapangan yang paling penting daripada itu semua. Aba ingin mencoba menempuh jalan lain.  Aba ingin berkhitmad kepada Islam dengan langsung.  Belum terang benar Aba pada permulaannya, apa yang harus dikerjakan sesungguhnya.  Tapi dengan tidak banyak pikir-pikir Aba putuskanlah bahwa tidak akan melanjutkan pelajaran ke Fakultas manapun juga. Aba hendak memperdalam pengetahuan tentang Islam lebih dahulu. Sudah itu bagaimana nanti.” (Kumpulan surat pribadi Natsir kepada anak-anaknya)
Pertemuan Natsir dengan A. Hassan memang seolah menjadi titik balik dalam hidupnya. Bayangan saat pergi meninggalkan Padang bahwa ia nanti akan dapat bersekolah tinggi di Jakarta atau Belanda supaya menjadi pegawai tinggi pemerintahan lama-lama sirna. Natsir semakin gandrung untuk mempelajari agama dan memikirkan masalah umat. Natsir menjadi lebih senang mempelajari agama. Ia perdalam lagi bahasa Arab, fiqih, tafsir, hadis, dan sebagainya yang sempat ditinggalkannya selama di Padang. A. Hassan-lah yang menjadi gurunya saat ini. Walaupun begitu, pelajaran-pelajarannya di AMS tetap diikutinya dengan baik sampai akhirnya mendapat nilai baik. Pelajaran agama yang didapatnya dari A. Hassan dilengkapinya dengan menambah pengalaman di JIB.

A. Hassan pun senang dengan kesungguhan dan kecerdasan Natsir. Ia siap melayani Natsir kapan saja untuk mengaji dan berdiskusi.  Bahkan, A. Hassan kemudian mengajak Natsir membantu penerbitan majalah yang sedang dirintisnya, yaitu Pembela Islam. Selain membantu masalah-masalah teknis, Natsir juga diberi kesempatan untuk menulis mengenai berbagai hal berkaitan dengan masalah-masalah agama dan politik. Melalui Pembela Islam inilah nama Natsir muda mulai dikenal. Majalah ini sendiri dibaca oleh berbagai kalangan di seluruh Nusantara.

 Kepedulian Natsir pada problematika umat Islam ketika itu memahamkannya bahwa masalah penting umat saat itu adalah kebodohan sebagian besar umat Islam terhadap agamanya sendiri. Untuk itu, Natsir mulai merintis pendidikan yang dia beri nama “Pendidikan Islam” (Pendis). Di samping itu, Natsir juga melakukan terobosan dengan memberikan pelajaran-pelajaran agama kepada murid-murid HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah Guru). Tempat pertama kali yang mau menerimanya adalah MULO dan Kweeksschool Gunung Sahari di Lembang. Ia mulai mengajarkan agama di sana.

Yang menarik, Natsir tidak mengajarkan agama kepada murid-murid MULO dalam bahasa Melayu atau bahasa daerah setempat Sunda, melainkan dalam bahasa Belanda. Ia pun menyusun buku teks pelajaran agama dalam bahasa Belanda. Salah satu kumpulan naskah pengajaran Natsir yang kemudian dibukukannya atas permintaan Sukarno saat dibuang ke Endeh adalah  Komt tot Gebeid (Marilah Shalat). Dengan cara itu, tampaknya Natsir mencoba membuat citra bahwa agama tidak identik dengan keterbelakangan. Sebab, ketika itu, bahasa Belanda memang menjadi salah satu indikator “kemajuan” dan “kemodernan”.

Pilihan Natsir untuk tidak melanjutkan studi ke universitas-universitas terkemuka sama sekali tidak menyurutkan dan menghentikan langkahnya untuk mengkaji ilmu. Pilihannya untuk menerjuni bidang keilmuan dan pendidikan Islam membuktikan kesungguhannya dalam bidang ini. Inilah sebuah pilihan berani dari seorang pemuda cerdas dan berani seperti Natsir. Dari sinilah, titik awal langkah Natsir dimulai. Dia mencari ilmu bukan untuk ”tujuan-tujuan mencari keuntungan duniawi”, bukan untuk menjadi pegawai negeri, dan sebagainya. Dia mencintai ilmu. Dia haus ilmu. Dia menjadikan aktivitas mencari ilmu sebagai bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itulah Natsir tidak tergiur dengan berbagai tawaran pekerjaan yang sangat menguntungkan pribadinya.

Natsir kemudian memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hassan. Siang hari, bersama A. Hassan, Natsir bekerja menerbitkan majalah ”Pembela Islam”. Malamnya, dia mengaji al-Quran dan membaca kitab-kitab berbahasa Arab dan Inggris.  Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs).  Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Di  sekolah Pendidikan Islam inilah, para siswa digembleng ilmu-ilmu agama dan sikap perjuangan. Alumninya kemudian mendirikan sekolah-sekolah sejenis di berbagai daerah. Pilihan Natsir terkadang menghadapkannya pada situasi sulit. Dalam surat-suratnya kepada anak-anaknya saat dalam kondisi gerilya di hutan Sumatera Barat, Natsir menceritakan secara rinci kiprahnya dalam mengelola Pendis ini. Natsir bukan hanya mengkonsep kurikulum, mengajar, mengelola guru-gurunya, tapi Natsir juga harus berjuang mencari dana untuk sekolahnya. Bahkan, untuk menghidupi sekolah ini, menurut Natsir, kadang dia harus menggadaikan gelang istrinya. Para siswanya juga diajar hidup mandiri agar tidak bergantung kepada pemerintah.

Di samping bergelut dengan persoalan-persoalan nyata dalam dunia pendidikan dan keumatan, Natsir  juga terus menerus menggali dan mengembangkan keilmuannya. Ia memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Syuhada Bahri,  menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang biasa dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran karya Sayyid Quthb, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hassan.

Kecintaan Natsir di bidang keilmuan dan pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan dalam  pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya.  Setelah disisihkan dari dunia politik di masa Orde Baru, Natsir kemudian benar-benar mengoptimalkan peran dakwah dalam masyarakat melalui lembaga dakwah yang didirikannya bersama berbagai tokoh Islam, yakni Dewan Da’wah Islamiyah  Indonesia.

Meskipun memiliki latar belakang pendidikan Belanda (Barat) yang baik, Natsir tidak tergerak sama sekali untuk melakukan westernisasi atau sekularisasi dalam dunia pendidikan Islam. Bahkan, melalui berbagai tulisannya, Natsir senantisa mengingatkan akan bahaya pendidikan Barat yang menjauhkan orang Muslim dari agamanya sendiri. Bahkan, tak jarang, Natsir mengungkapkan fakta kaitan antara Misi Kristen dengan program westernisasi pendidikan.

Tahun 1938, misalnya, Natsir pernah menulis sebuah artikel berjudul: ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”.  Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut: ”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”

Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938.  Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”

Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”

Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.”  (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen.

Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:

”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!”  (Artikel Natsir dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938;  dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Peringatan Natsir tentang bahaya westernisasi pendidikan Barat sejalan dengan peringatan berbagai cendekiawan Muslim lainnya. Bahkan, kaum Katolik juga menjadikan Pandangan hidup Barat (Western worldview) yang sekular dan berpegang pada nilai-nilai relativisme sebagai tantangan berat bagi mereka. Paus Benediktus XVI sendiri memprioritaskan programnya untuk melawan apa yang disebutnya sebagai “dictatorship of relativism in the West”. (John L. Allen, The Rise of Benedict XVI, (New York: Doubleday, 2005).

Sayang sekali, saat ini, paham relativisme kebenaran ini justru banyak dikembangkan dalam dunia pendidikan Islam sehingga menghasilkan lulusan yang bersikap skeptis dan apatis terhadap kebenaran. Sikap kritis Mohammad Natsir terhadap peradaban Barat, tanpa bersikap a priori, perlu diteladani oleh para cendekiawan Muslim. (***)


Sumber : cek it out

0 komentar:

Poskan Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com